KETELADANAN HAMAS: MELAWAN HEGEMONI AS-ISRAEL BUKAN MUSTAHIL!

Oleh: dr. Salman F (Healthcare Professionals for Sharia-HELPS)

Dunia hari ini sedang menyaksikan sebuah paradoks besar. Munculnya Board of Peace (BoP) besutan Donald Trump mencerminkan kegagalan parah Washington dalam memahami DNA perlawanan di Gaza.

Washington mencoba menjadikan dana pembangunan sebagai instrumen “pelucutan senjata”. Mereka mengira Gaza bisa dibeli. Di sinilah letak jurang pembatasnya: Barat melihat Gaza lewat angka material, sementara Hamas melihat kedaulatan melalui prinsip Islam yang tak tergoyahkan.

Akidah vs Pundi Kapital

Bagi Hamas, eksistensi mereka bukan soal kursi kekuasaan, melainkan keberlanjutan Ruh Jihad dan kemandirian sistem. Tiada maknanya Gaza tanpa nilai-nilai keistiqomahan melawan hegemoni.

Sebaliknya, Barat sengaja menciptakan stigma bahwa perlawanan Hamas hanyalah “kegenitan musiman” kelompok lokal. Mereka sengaja membutakan mata bahwa akarnya adalah spiritualitas. Akibatnya? Mereka menawarkan kemewahan material sebagai “obat”. Ini adalah benturan dua nilai yang diametral: Kenyang dalam perbudakan vs Lapar dalam kemerdekaan.

Cacat Logika Dunia Islam

Ironisnya, banyak negara Muslim justru terjebak narasi naif. Mereka membenturkan “perjuangan” dengan “kemanusiaan”. Seolah-olah jika berjihad, maka mengorbankan rakyat.

Dunia seolah ingin Gaza hanya berisi aktivitas kemanusiaan tanpa kepemimpinan Islam dan tanpa perlawanan. Padahal, Islam mengajarkan konsep baku: Kedaulatan adalah hukum asal, diplomasi hanyalah alat.

“Pabrik Manusia” dan Kursi yang Tak Pernah Dingin

Hamas bukan sekadar organisasi militer, ia adalah institusi yang digerakkan oleh Ketakwaan. Kekuatan mereka ada pada kurikulum pendidikan Islam yang mencetak mentalitas merdeka. Inilah yang membuat mekanisme suksesi mereka begitu solid:

  • Syeikh Ahmad Yassin: Peletak fondasi ideologi dan kurikulum iman.
  • Abdel Aziz al-Rantisi: Penjaga api perlawanan di masa kritis.
  • Ismail Haniyeh & Yahya Sinwar: Penjaga keseimbangan diplomasi dan ketahanan lapangan.
  • Abu Ubaidah: Ikon komunikasi yang memastikan narasi ketakwaan mendominasi ruang publik.

Bukti Militer: Teknologi Kalah oleh Determinasi

Gaza adalah bukti nyata bahwa teknologi tercanggih sekalipun akan lumpuh di depan determinasi manusia:

  • Israel Terjebak: Dari Operasi Cast Lead (2008) hingga hari ini, tank-tank terbaik mereka terjebak dalam labirin “kota bawah tanah” tanpa hasil politik nyata.
  • Kemandirian Senjata: Di bawah blokade total, mereka mampu menciptakan roket Al-Yassin 105 dari sisa proyektil musuh. Ruh jihad mengubah sampah menjadi senjata mematikan!

Harapan: Jika Gaza Bisa, Mengapa Kita Ciut?

Hamas adalah “laboratorium” perlawanan. Mereka membuktikan bahwa hegemoni AS dan Israel bisa dilawan bahkan di sepetak tanah yang terisolasi total.

Ini adalah tamparan bagi kekuatan Muslim sedunia. Jika satu faksi di tanah sempit mampu membuat hegemoni global kelabakan, maka jatuhnya dominasi AS bukanlah impian kosong, melainkan kepastian sejarah yang sedang berproses.

Gaza sudah menang secara mental. Pertanyaannya: Kapan kita bangun dari tidur panjang ini?

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *