Nasional. LantaiAtas – Jaksa penuntut umum (JPU) menuduh pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi pada 2020-2022 semata-mata hanya untuk kepentingan Menteri Dikbud Ristek 2019-2024 Nadiem Anwar Makarim.
Jaksa mengklaim punya bukti bahwa Nadiem tahu laptop Chromebook dan sistem operasi Chrome memang tidak bisa digunakan oleh siswa dan guru dalam proses belajar mengajar khususnya daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T); namun tetap memaksakannya.
“[Namun,] pengadaan dilakukan Nadiem semata-mata hanya untuk kepentingan bisnisnya agar Google meningkatkan investasi penyetoran dana ke PT Aplikasi Karya Anak Bangsa [AKAB],” ujar jaksa saat membacakan dakwaan Direktur Sekolah Dasar Direktorat Jenderral Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah 2020-2021 Sri Wahyuningsih, dikutip Rabu (17/12/2025).
Padahal, kata jaksa, terdapat kemahalan harga dalam pengadaan laptop Chromebook karena tidak ada kajian pembentukan harga dan menggunakan spesifik yang dibuat oleh Nadiem melalui Peraturan Mentei Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2021 tentang Petunjuk Operasional Dana Alokasi Khusus Fisik Reguler Bidang Pendidikan Tahun Anggaran 2021.
Perlu diketahui, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa didirikan oleh Nadiem dan merupakan induk perusahaan pemilik Gojek sebelum merger dengan Tokopedia dan berubah nama menjadi PT GoTo.
Jaksa mengatakan Nadiem bersama Andre Soelistyo mendirikan perusahaan modal asing bernama PT Aplikasi Karya Anak Bangsa pada 2015. Mereka kemudian mengandeng perusahaan besar Google untuk bekerjasama bisnis dalam aplikasi Google Maps, Google Cloud dan Google Workspace yang akan digunakan dalam bisnis Gojek.
Pada 2017, Google berinvestasi ke PT Aplikasi Karya Anak Bangsa dengan cara penyetoran modal sebesar US$99,99 juta. Pada 2019, Google kembali berinvestasi ke PT Aplikasi Karya Anak Bangsa dengan cara penyetoran modal sebesar US$349,99 juta. Pada tahun yang sama, Nadiem dilantik menjadi Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi pada Oktober 2019.
Pada November 2019, atau tak lama setelah pelantikan, Nadiem melakukan pertemuan dengan Colin Marson selaku Head of Education Asia pacific, dan Putri Ratu Alam yang membahas terkait produk-produk Google for Education seperti Chromebook, Google Workspace, dan Google Cloud.
Setelah pertemuan tersebut, Nadiem sepakat untuk menggunakan produk-produk Google For Education di antaranya adalah penggunaan Chromebook untuk setiap sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dan spesifkasi teknis akan diganti menggunakan sistem operasi Chrome.
Selain itu, untuk tidak terlihat adanya konflik kepentingan kedudukan Nadiem selaku Mendikbud, maka dia mengundurkan diri sebagai direksi di PT Gojek Indonesia dan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa. Akan tetapi, Nadiem menunjuk teman-temannya di antaranya Andre Soelistyo dan Kevin Bryan Aluwi sebagai direksi dan penerima manfaat untuk kepentingannya sebagai saham pendiri miliknya.[] bloomber-fm





