LantaiAtasNews- Ada upaya lembaga kesehatan dunia untuk mempengaruhi kasus LGBT dengan menormalisasi tindakan tersebut dengan doktrin adanya gen spesifik orientasi seksual. Hal ini diungkap dokter Fauzan Azhari Marzuki saat kegiatan Dialog Islam dan Peradaban yang dilaksanakan Forum Akademisi Muslim Indonesia Sulsel (FAMI), Ahad (16/6) di Auditorium dr Solihin Wirasugena, Fakultas Kedokteran Unhas, Makassar.
“Kegiatan yang bekerja sama dengan WHO itu untuk melatih dokter, perawat, dan bidan tenaga kesehatan untuk menjadi on job training bertujuan menekan penyebaran penyakit menular dan HIV AIDS,” terangnya.
Dokter spesialis kulit kelamin ini menerangkan dalam kegiatan tersebut perwakilan WHO memberikan doktrin agar jangan mempersoalkan LGBT karena menurut mereka itu sesuai fitrah manusia yang dimana penelitian tahun 1999 yang dikutip pembicara ada gen spesifik yang menentukan orientasi sesual manusia.
“Saya menyanggah itu dan mengatakan data penelitian itu sudah dibantah dengan data penelitian tahun 2019 yang dilakukan di inggris dengan sample 500 ribu papulasi yang dimana penelitian itu menunjukkan tidak ada namanya gen spesifik orientasi seksual,” protesnya
“Mereka berupaya mengaburkan dan menormalisasi pandangan kita pada LGBT sedemikian getolnya pada dokter, perawat dan tenaga kesehatan, kenapa kita tidak yang lebih getol menyebarkan kebaikan,” urainya.
Pembicara lain, dokter Eko Nugroho sebagai pakar kesehatan mengungkapkan fakta Data Dinas Kesehatan Penanggulanngan Penyakit (P2) menyatakan khusus di Makassar tahun 2025 terdapat 1000 kasus terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya dan 74 persen dialami laki-laki di usia produksif.
“Lelaki seks lelaki (LSL) hampir 500 kasus dan disurvei selalu ada peningkatan, LSL ini perilaku kelainan orientasi seksual,” ujarnya
Peningkatan kasus maupun peningkatan komunitas disebabkan karena adanya kekosongan hukum dari perilaku LBGT. “Padahal secara moral, sosial masyarakat lebih lagi dari agama ini sudah melanggar. Cuman karena kita hidup dengan sistem sekuler makanya seperti inilah yang terjadi,” jelasnya.
Ustadz Haeruddin, menanggapi maraknya kasus LGBT disebabkan paham liberalisme dimana seseorang bebas memilih kehidupan khususnya gaya hidup termasuk penyimpangan seksual. “Umat Islam didera dengan moderasi beragama, dimana nilai nilai universal, toleransi dan HAM ini menumbuh suburkan gerakan LGBT, dianggap wajar, normalisasi hingga dianggap dari kebenaran serta memperhalus istilah,”
Padahal Rasulullah telah mencontohkan pada kita bagaimana menyelesaikan masalah penyimpangan LGBT dengan pelaksanaan hukum syariah yang sangat tegas pada pelakukanya. Kegiatan yang menghadirkan para tokoh dan intelektual muslim ini. Mengundang juga sebagai pembicara dr. Ilhamuddin M. SC, M. Kes, Phd, SpKJ dan dr. H Iswahyudi, Sp,OT sebagai Moderator acara.[] fm





