Penulis, Aman Khan
Sebagai entitas yang terpilih (choosen), maka umat Islam tidak memiliki pilihan lain (another choice) kecuali berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan perintah Allah di dalam al Qur’an surah Ali Imran ayat 110 sebagai umat terbaik. Keimanan menjadi pondasi utama untuk mewujudkan hal tersebut, termasuk dalam hal ini keimanan terhadap apa yang menjadi perintah dan larangan Allah SWT yang keseluruhannya dapat dipahami melalui apa saja yang dibawa oleh Rasulullah SWT.
Secara khusus, momen haji sebagai sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah SWT sesungguhnya menyiratkan gambaran umat Islam sebagai umat yang terpilih untuk mengatur umat manusia secara keseluruhan untuk membawa mereka dari kelamnya jahiliyah menuju terangnya peradaban . Rasulullah sendiri selama hidup beliau hanya sekali melaksanakan ibadah haji. Namun momen ini menjadi istimewa bukan hanya karena menjadi momen perpisahan beliau dengan umat yang dicintainya, namun juga karena diikuti oleh kurang lebih 100.000 jamaah dari berbagai suku dan kabilah. Posisi beliau sebagai pemimpin negara menjadikan momen itu semakin istimewa dan membekas bagi mereka yang turt menyaksikannya.
Pelaksanaan ibadah haji dimasa-masa sebelum hadirnya Rasulullah memberikan petunjuknya dilakukan oleh para jamaah dengan berbagai versi. Ada yang melaksanakan tawaf dengan telanjang, ada yang datang dengan membawa berhala masing-masing suku dan kabilah, mereka pun masuk ke Makkah tanpa ada rules yang jelas dan lain sebagainya. Berbagai varian pelaksanaan haji tersebut kemudian diatur dan diseragamkan oleh Rasulullah. Suku-suku yang datang berhaji saat itu tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti apa yang telah ditetapkam oleh Rasulullah dan umat Islam karena merekalah entitas yang terpilih untuk mengatur masyarakat dunia saat itu. Ini di satu sisi.
Di sisi lain. Rasulullah telah menetapkan miqat makani sebagai titik masuk sekaligus tempat dimulainya ihram. Miqat makani itu sendiri ada 5 yakni :
- Dzul Hulaifah (Bir Ali) sebagai miqat bagi jamaah haji yang berasal dari Madinah dan yang sejurusan dari arah utara kota Makkah. Berjarak kurang lebih 450 km dari kota Makkah. Jamaah haji asal Indonesia gelambang pertama akan mengambil miqat di tempat ini
- Juhfah sebagai miqat bagi jamaah haji yang berasal dari jurusan barat laut yang mencakup wilayah syam (Suriah, Libanon, Jordania, Palestina), Mesir dan Afrika Utara, termasuk wilayah Eropa. Jaraknya kurang lebih 208 km.
- Dzaqul Irqin sebagai miqat bagi jamaah haji yang berasal dari arah barat daya yakni Iraq, Iran dan yang sejurusan dengannya. Jaraknya kurang lebih 100 km dari kota Makkah
- Qarnu Manazil sebagai miqat bagi jamaah haji bagi berasal dari jurusan timur dan tenggara dalam hal ini negara-negara teluk (Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman) dan yang sejurusan dengannya. Jaraknya kurang lebih 78 km dari kota Makkah
- Yalamlam sebagai miqat bagi jamaah haji dari jurasan selatan yakni Yaman dan termasuk jamaah yang datang dari samudera bagian selatan yakni jamaah haji asal Malaysia dan jamaah haji asal Indonesia gelombang kedua. Jaraknya sekitar 120 km dari kota Makkah
Penetapan miqat makani oleh Rasulullah ini menunjukkan visi dakwah Islam bahwasanya cahaya Islam akan meliputi seluruh penduduk bumi dan mereka akan berdatangan di musim haji dari berbagai penjuru. Selain itu penetapan miqat juga menyiratkan bahwa hanya Islam dan kaum musliminlah yang memiliki legitimasi untuk menetapkan etika politik global untuk mengatur umat dan bangsa di dunia termasuk interaksi diantara mereka seperti aturan-aturan perang dan damai, penetapan cukai antar negara, konvensi-konvensi internasional dan semacam. Sayangnya etika politik global saat ini justru dipegang oleh negara-negara kapitalis pimpinan Amerika dimana efek merusaknya bagi tatanan kehidupan manusia terus kita rasakan hingga saat ini. Tatanan yang mereka namakan sebagai new world order.
Oleh karenanya sudah menjadi kewajiban kaum muslimin untuk mengembalikan legitimasi itu. Tentunya hal tersebut tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali dengan menghadirkan negara superpower yang secara faktual bakal wilayahnya telah dihuni oleh entitas yang terpilih itu, yakni negeri-negeri kaum muslimin. Negeri-negeri yang penduduknya telah mendambakan untuk diatur dengan syariat Allah SWT, cakupan wilayahnya meliputi titik-titik strategis perdagangan dunia (Terusan Suez, Selat Hormuz, Selat Malaka dan Selat Gibraltar), kandungan sumberdaya alamnya yang melimpah dan potensi kekuatan militernya yang luar biasa. Insya Allah
Hari Arafah 1447 H






One Response
Ternyata ajaran Rasulullah SAW sangat visioner, melampaui masa dan tempat